Hubungan Qada,Qadar,ikhtiar, dan tawakal
Qada dan qadar adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya bagaikan rencana dan pelaksananya. Qada adalah rencana Allah swt. tentang makhluk-Nya, sedangkan kejadian/pelaksanaan daripada rencana tersebut adalah qadar. Allah memiliki sifat Mahakuasaatas rencana-rencana-Nya. Tidak seorang pun mampu menghalangi. Jika Allah telah berkehendak baik, maka jadilah. Begitu pula sebaliknya.
Para ahli kalam pada abad pertengahan hijriyah sering terlibat dalam diskusi, apakah manusia dalam setiap geraknya berhubungan dengan takdir? Ataukah ada kebebasan manusia yang diberikan Allah swt. agar berbuat baik dan buruk? Apakah manusia selalu dipaksa dengan kehendak Allah swt., ataukah diberikan kekebasan menentukan pilihannya sendiri? Jawabnya adalah perpaduan dari keduanya.
Di sinilah ikhtiar atau usaha berperan. Ikhtiar adalah usaha manusia untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Usaha ini untuk mencapai sesuatu yang lebih baik di dunia dan akhirat. "Misalnya: orang yang ingin sehat, maka dia berusaha menjaga kondisi fisiknya dengan makan, tidur dan olah raga yang teratur. Jika ingin sembuh dari sakit harus rajin minum obat, jika ingin pandai harus belajar, jika ingin kaya maka harus bekerja keras dengan cara yang baik dan halal, jika tidak ingin atau usaha inilah yang dinamakan ikhtiar.
Namun, seringkali sesuatu yang kita peroleh tidak sesuai dengan usaha yang sudah kita laksanakan. Sehingga sebagai seorang mukmin yang taat, jika menjumpai hal-hal yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka kita pasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta, yaitu Allah swt. agar tidak sedih berkepanjangan. Namun kita tetap optimis,tidak putus asa, dan senantiasa berusaha keras agar hal-hal yang kita inginkan tercapai.Bukankah hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan dan hanya kepada-Nya pula kita berserah diri (bertawakal)? Allah swt berfirman:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Artinya: "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran,di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain
Dia." (Q.S. Ar-Ra'd/13: 11)
PERILAKU YANG MENCERMINKAN KEIMANAN KEPADA QADA DAN QADAR
Perilaku yang perlu dikembangkan untuk melatih serta memupuk keimanan kepada qada dan qadar Allah swt., antara lain:
1. Melatih diri untuk menjadi orang yang bersyukur atas nikmat Allah swt. dan memiliki
jiwa yang ikhlas.
2. Mendidik diri untuk ikhlas menerima kenyataan.
3. Berusaha untuk dapat mengendalikan diri (mawas diri).
4. Melatih diri untuk sabar menghadapi segala cobaan hidup.
5. Terus giat bekerja dan belajar sebagai bentuk mensyukuri nikmat jasmani dan rohani.
6. Berusaha untuk meyakini bahwa di balik peristiwa yang kurang menyenangkan pasti ada hikmahnya.
7. Optimis, terus berusaha dan pantang menyerah serta bertawakal dalam menggapai cita-cita.
8. Tetap tawaduk dan tidak sombong ketika sedang berlimpah harta.
9. Selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah ketika menghadapi kesulitan
hidup.
10. Meyakini bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang kita peroleh.
HIKMAH BERIMAN KEPADA QADA DAN QADAR
Keimanan kepada qada dan qadar Allah swt. akan menimbulkan dampak positif bagi seseorang. Adapun hikmah beriman kepada qada dan qadar Allah swt., antara lain:
1. Berjiwa kanaah (rela menerima kenyataan hidup yang dialami dengan ikhlas dan hidup dengan apa adanya).
2. Berani menghadapi persoalan hidup karena yakin semuanya yang dialami hanyalah merupakan ujian dari Allah swt.
3. Memiliki keberanian dalam berjuang menegakkan Islam karena yakin bahwa hidup dan mati ada pada kuasa Allah swt.
4. Memiliki jiwa yang tenang, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik.
5. Mampu mengendalikan dirinya di saat suka maupun duka. Tidak terlalu bangga dan tidak pula takabur jika usahanya sukses; tidak mudah patah semangat jika usahanya belum berhasil.
6. Cukup tenteram hidupnya karena merasa bahwa dirinya dekat dengan Allah
swt.
Comments
Post a Comment