METODE PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH

METODE PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH
A)ANALISIS SISTEM DAKWAH
     Untuk menganalisa keadaan dakwah yang permasalahannya sudah Semakin kompleks ditengah perubahan sosial,diperlukan suatu kerangka analisa makro Untuk menjebatani kesenjangan antara pemikiran dengan realitas dakwah.Pendekatan ini berangkat Dari anggapan dasar bahwa Islam merupakan suatu sistem usaha merealisasikan ajaran Islam pada semua daratan Dan semua asfek kehidupan Manusia disemua lininya.dalam Pendekatan ini di gunakan teori umum sistem yang bersifat analisis, yaitu mengadakan konstruksi intelektual yang tersusun Dari aspek-aspek realitas dakwah Islam.pada umumnya sistem terdiri Dari Lima komponen dasar yaitu; input (masukan), convertice (proses pengubahan), output (pengeluaran, feedback atau umpan balik) Dan conviranment (lingkungan)
     Dakwah Islam adalah suatu sistem yang terdiri Dari beberapa subsistem yang saling berhubungan,begantung Dan berinteraksi dalam mencapai tujuan dakwah.Dalam landasan Untuk membangun sistem dakwah itu ditentukan Oleh tujuan.Jikalau rumusan tujuan dakwah tidak pernah jelas Maka tidak bisa dibangun sistem apapun, karena tidak ada suatu tujuan yang jelas.Tujuan Dari suatu dakwah yaitu mewujudkan keluarga, pribadi muslim, jamaah muslim Dari negara yang berdasarkan syariat Islam.Apa pun itu negaranya yang penting syariat islam sebagian rujukan dasar di dalam kehidupan bernegara itu,kalau itu belum tercapai itu lah dakwah, itu lah perjuangan mencapai dakwah yang tadi nya sepuluh persen menjadi tiga puluh persen Dan hingga mencapai seratus persen perjuangan Dari dakwah tersebut.
     Hal ini lah yang menjadi landasan dalam mewujudkan Islam dalam berbagai tatanan Dari tujuan dakwah itu menjadi way of life pribadi,way of life keluarga,way of life masyarakat,way of life negara.
     Tanpa adanya sistem dakwah Kita tidak bisa menganalisis interaksi antara komponen dakwah secara komprohensif.Sehingga tidak sesuai dengan tujuan yang di tetapkan,misalnya orang mendefiniskan dakwah hanya sebagai tabligh itu wajar Untuk Kita,Tapi kalau dalam dakwah tabligh hanya Salah satu bagian Dari dakwah.
    Dalam mengembangkan dakwah sebagai ilmu terasa sangat tidak mungkin tanpa diberengi dengan adanya penemuan Dan pengembangan kerangka teori dakwah.Tanpa teori dakwah Maka apa saja prihal Tentang ilmu dakwah tidak levih Dari sekedar kumpulan pernyataan normative tanpa memiliki kadar analisis atas fakta dakwah atau sebaliknya,hanya merupakan kumpulan pengetahuan atas fakta sehingga buntu Untuk memandu pelakasanaan dakwah dalam menghadapi masalah yang Komplek.

B)METODE HISTORIS
  Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang artinya cara atau jalan.Maka, metode mengandung arti cara kerja atau langkah untuk mengembangkan ilmu tersebut menjadi sasaran  yang bersangkutan. dengan demikian metode dakwah yaitu cara kerja atau langkah dalam ilmu dakwah untuk mempelajari, merumuskan, dan mengembangkan teori-teori dakwah dan memahami objek kajian ilmu dakwah.
   Perkembangan kajian ilmu dakwah melahirkan Dua versi besar yaitu menurut Amrullah Dan menurut syukriadi sambas. Secara garis besar ruang lingkup metode dakwah menurut Amrullah Ahmad sebagai berikut:
* Metode pendekatan analisa dakwah
  Dengan pendekatan ini masalah-masalah dakwah yang kompleks dapat dirumuskan, proses dakwah dapat diketahui alurnya, hasil-hasil dakwah dapat diukur dan dianalisa, umpan balik kegiatan dakwah terhadap sistem kemasyarakatan (lingkungan) dapat diketahui dan dianalisa. Demikian juga dampak perubahan dari sistem politik terhadap sistem dakwah dapat diidentifikasi secara jelas. Metode ini tepat untuk pengembangan konsep dan teori dakwah dalam rangka pengembangan keilmuan dakwah. sedangkan secara praktis metode ini sangat bermanfaat bagi perumusan kebijakan dan program dakwah Islam.
* metode historis
  Metode historis digunakan untuk melihat dakwah dalam perspektif waktu kemarin,kini, dan yang akan datang. Caranya adalah dengan menggunakan pendekatan subjek dan teritorial. Pendekatan subjek diterapkan dengan cara melihat semua unsur dalam sistem dakwah perspektif waktu dan dibarengi dengan penjelasan tempat Dimana terjadinya. Dengan cara demikian fenomena-fenomena dakwah dapat dipotret secara komprehensif dan utuh.
* metode reflektif
  Reflektif pandangan dunia tauhid (sebagai paradigma) ke dalam prinsip epistemologis, kemudian refleksi epistemologi disusun dalam wawasan teoristik dan refleksi teoristik pemahamannya ke dalam fakta dakwah. Reflektif merupakan proses verifikasi atas prinsip serta konsep dasar dakwah. Hasilnya boleh jadi memperkuat wawasan teori dan merevisi wawasan teori atau bahkan menggugurkan teori yang ada.
* metode riset dakwah partisipatif
  Objek kajian dakwah bukan hanya bersifat masa lalu bahkan bersifat masa kini dan yang akan datang. dakwah merupakan fenomena aktual yang berinteraksi dengan aneka ragam sistem kemasyarakatan. Masalah dakwah tidak bisa dikaji secara menyendiri dengan aspek masalah lainnya. Hal ini karena dakwah bersifat multidimensi dan selalu bersentuhan dengan aneka realitas.
C)METODE DAKWAH PARTISIPASI
  Kegiatan dakwah islamiyah tidak bisa lepas dari lima unsur yang harus berjalan serasi Dan seimbang. Karena kegiatan dakwah itu sendiri merupakan proses interaksi antara pelaku dakwah (Dai) dan sasaran dakwah (masyarakat) dengan strata sosial yang berkembang, antara sasaran dakwah dan pelaku dakwah saling mempengaruhi, bahkan saling menentukan keberhasilan dakwah, dimana keduanya sama-sama menuntut porsi materi, metode dan media tertentu (KH MA Sahal Mahfudh)
   Strategi dakwah akan berhasil apabila kelima unsur diatas berjalan seimbang, ini berarti kegiatan dakwah bukan sekedar memberikan "pengajian" di atas mimbar dengan berbagai sumber pengkajian. Namun lebih dari itu, Iya menuntut tumbuhnya kesadaran bagi audiens, agar pada gilirannya melakukan perubahan positif dari sisi pengalaman dan wawasan agamanya.
  Pendekatan partisipatif menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam perencanaan dakwah, Bahkan dalam penggalian permasalahan dan kebutuhan. Di sinilah akan tumbuh dinamisasi ide dan gagasan baru, dimana para Dai berperan sebagai pemandu dalam dialog dialog keberagamaan yang muncul dalam mencari alternatif pemecahan masalah.
   efektivitas dakwah mempunyai dua strategi yang saling mempengaruhi keberhasilannya. Pertama, peningkatan kualitas keberagamaan dengan berbagai cakupannya, dan kedua, sekaligus mampu mendorong perubahan sosial, ini berarti memerlukan pendekatan partisipatif di samping pendekatan kebutuhan. Dakwah bukan lagi menggunakan pendekatan yang hanya direncanakan sepihak oleh pelaku dakwah dan bukan hanya pendekatan tradisional, mengutamakan besarnya massa.
   Pengembangan dakwah islamiyah merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan terencana yang mengarah pada peningkatan kualitas keberagamaan Islam, kualitas itu meliputi pemahaman ajaran Islam secara utuh dan tuntas, wawasan keberagamaan, Penghayatan dan pengalaman nya. Sebagai proses, maka tuntutan dasarnya adalah perubahan sikap dan perilaku yang akan diorientasikan pada sumber nilai yang Islami, dari Dimensi Lain pengembangan itu merupakan perubahan alat untuk mencapai tujuan Dakwah Islamiyah, di sini kebutuhan dasarnya adalah proyeksi dan kontekstualisasi ajaran Islam dalam proses transformasi sosial. Ini memerlukan kejelian dan kepekaan sosial bagi setiap Da'I/mubaligh, agar mampu melakukan pendekatan kebutuhan, yang dipandu oleh sumber nilai Islami.
D)RISET KECENDERUNGAN ILMU DAKWAH
  setelah penelitian atau Da'i melakukan generalisasi atas fakta atau peta dakwah masa lalu dan saat sekarang serta melakukan kritik terhadap teori teori dakwah yang ada, makalah penelitian dakwah menyusun analisis kecenderungan masalah, sistem, metode, pola pengorganisasian dan pengolahan dakwah yang terjadi pada masa lalu, kini dan kemungkinan di masa mendatang. Dengan riset ini kegiatan dakwah akan bisa tampil memandu perjalanan umat dalam pentas global dan selalu dapat memberikan solusi dan melakukan antisipasi yang lebih dini terhadap problem problem umat Islam.
   Lebih jauh, instrumen untuk pengembangan metode keilmuan dakwah adalah melalui penelitian yang serius. Tugas ini tampaknya tidak bisa diharapkan dari para Da'i, Sebab mereka lebih terkonsentrasi pada aplikasi dakwah. Para dosen fakultas dakwah memiliki beban berat dalam memikul tugas ini, kalau bukan mereka lalu Siapa lagi yang berkewajiban menemukan dan merumuskan formulasi dakwah yang lebih efektif. Namun, dalam pengamatan yang terbatas, tampaknya belum banyak yang berminat ke arah itu.
 

Comments